Monday, July 16, 2012
Hari Pertama Jadi Anak SD
Monday, June 25, 2012
prj = american donat
pertama kali makan donat ini waktu masih kecil. oleh oleh bapak yang pulang dari jakarta. rasanya waktu itu aku baru umur sekitar 6-7 tahun, dan saat itu kita tinggal di kota Solo.
hanya ada 4 varian rasa : gula, keju, meses dan kacang, hanya ada dua produk donat dan waffle. varian rasa waffle nya hanya ada keju dan coklat.
dannnnn baik produk maupun varian rasanya bertahan hingga sekarang.
american donat namanya. donatnya padat banget tapi empuk! ukurannya juga sedang saja. setelah googling ternyata donat ini sudah ada sejak tahu 1968. hehehehehe umurnya cuma beda setahun doang ma aku rupanya. disebutkan di dalam situsnya bahwa american donat adalah perintis donat yang digoreng dengan mesin.
buat aku, diantara donat donat sejenis yang saat ini marak membuka stand nya diberbagai tempat, belum ada yang ngalahin american donat. rasanya donat donat itu cuma besar ukurannya tapi saat digigit terasa kosong dan kempes. beda dengan american donat yang padat dan empuk. wesss pokoke mantabb!!!
walaupun varian rasanya yang hanya 4 macam, tapi bener bener memanjakan lidah banget. parutan kejunya yang tebal, gula halusnya juga tebal dan yang pasti gula halus beneran bukan sugar ice yang buat aku kadang rasanya agak pahit. baik taburan meses maupun kacangnya juga tebel!!!
buat waffle yang aku suka rasa coklatnya. manis dan gurih waffle nya pas!!! uniknya wafflenya dibentuk memanjang dan diberi tusukan sate. kalau kata kakak alifah 'donat sate'. hehehehehe bahkan sekarang kakak alifah dan balqiz juga suka donat ini.
sayangnya nih..... donat ini termasuk yang susah ndapetinnya. yang udah jelas ada sih pada saat event Jakarta Fair atau PRJ yang digelar tiap tahunnya. belum tersebar dimana mana seperti donat donat lain. Alhasil donat ini adalah 'sesuatu' yang wajib dibeli saat PRJ digelar. haiyaaaaa judulnya makan donat ini hanya setahun sekali yaaaaa @_@
so,... PRJ = American Donat
Tuesday, May 8, 2012
Prima: Bangga Punya Anak Tunanetra
Dimuat di : kartunet
Bingung, sedih, kecewa. Mungkin ketiga kata itu dapat menggambarkan perasaan seorang ibu yang melahirkan anak disabilitas. Betapa tidak, setiap orang tua tentu berharap memiliki anak yang “sempurna”. Namun, tentu Tuhan hanya akan memberikan ujian sesuai kemampuan hamba-Nya. Oleh karena itu, Tuhan akan memberikan anak istimewa hanya kepada ibu yang istimewa pula.
Pertengahan September 2005, Primaningrum melahirkan bayi kembar tiga. Kebahagiaan tentu dirasakan Prima dan suaminya atas keselamatan ketiga putri mereka. Akan tetapi sebuah kenyataan yang tidak pernah diharapkan harus diterima oleh pasangan itu. Ya, Balqiz Baika Utami, si tengah dari kembar tiga itu menyandang tunanetra.
“Penyebabnya kegagalan pembentukan retina akibat kelahiran prematur,” jelas Prima. Di antara ketiga kembar itu hanya Balqiz yang tunanetra. Si sulung Alifah, berpenglihatan awas, dan si bungsu Tantri telah meninggal pada usia 28 hari.
Prima tidak pernah menyalahkan Tuhan karena memberinya anak dengan disabilitas. Namun wanita kelahiran Surabaya itu sempat bingung memikirkan bagaimana mengasuh dan mendidik Balqiz nantinya. Saat itu, ia sama sekali tidak punya gambaran tentang anak disabilitas. Majalah, buku-buku, maupun informasi di internet lebih banyak membahas prihal tumbuh kembang anak nondisabilitas. Pencerahan yang ia butuhkan belum juga ia peroleh, padahal Balqiz membutuhkan penanganan segera.
Usia Balqiz semakin bertambah. Prima mulai sadar bahwa ia harus melakukan sesuatu untuk menstimulasi tumbuh kembang putri kecilnya. Mulailah ia melakukan sesuatu yang ia sebut “trial and error”. Semua hanya berdasarkan perkiraan, bagaimana kiranya mengasuh anak dengan hambatan penglihatan.
“Aku ngerasa beruntung karena Balqiz punya kembaran, jadi aku punya pembanding.” Prima berpikir, bahwa apa yang sudah bisa dilakukan Alifah, seharusnya juga sudah bisa dilakukan oleh Balqiz. Toh putri keduanya itu tidak memiliki hambatan selain pada penglihatan. Ia harus lebih banyak berkata-kata ketika mengajarkan sesuatu. Misalnya, ketika mengajarkannya berjalan, Prima menjelaskan dengan detail “Balqiz sedang berjalan”, bahwa “berjalan itu dengan kaki”, dan sebagainya. Hal ini ia lakukan karena Balqiz tidak pernah melihat seperti apa yang disebut dengan “berjalan”.
“Kalau Alifah bisa ambil buku sendiri, tapi Balqiz harus diambilin.” Begitulah cara Prima menjelaskan pada si sulung tentang kondisi ketunanetraan Balqiz. Sejauh ini, Alifah tidak pernah menanyakan perbadaan Balqiz dengan dirinya. Prima sendiri tidak pernah mengatakan dengan terang-terangan bahwa Alifah memiliki adik tunanetra. Meski demikian, ternyata rasa pengertian itu tumbuh dengan alami dalam diri saudara kembar Balqiz itu.
Prima tidak pernah malu memiliki anak tunanetra, bahkan justru ia tampak bangga. Lihat saja, ia aktif berbagi informasi tentang tumbuh kembang Balqiz dalam blog-nya yang beralamat di www.allaboutbalqiz.blogspot.com. Blog yang berjudul “All About Balqiz” ini ia dedikasikan untuk semua ibu yang memiliki anak tunanetra. Minimnya informasi mengenai anak disabilitas dan bagaimana cara mengasuhnya, memicu semangat Prima bersama teman-temannya untuk mendirikan Yayasan Balita Tunanetra di tahun 2010. Jelas, kehadiran Balqiz membuat Prima menjadi sosok wanita yang kuat, yang senantiasa ikhlas berbagi dengan sesama.
Meski tunanetra, Balqiz pun harus bersosialisasi dengan masyarakat. Oleh karena itu, Prima tak pernah enggan mengajak si kembar berjalan-jalan. Lingkungan tempat tinggal mereka di kawasan Pondok Gede telah terbiasa dengan kehadiran Balqiz, sehingga tak lagi menganggap bahwa anak tunanetra adalah “mahluk aneh”. Bahkan, Balqiz tidak pernah canggung bermain bersama anak-anak tetangga seusianya yang nondisabilitas.
Ketika mengajak Balqiz bepergian, Prima selalu meminta anaknya memegang tongkat. Apa yang ia lakukan ini kerap kali menarik perhatian orang-orang di sekeliling mereka. Bagaimana tidak. Pada saat banyak orang tua menyembunyikan anaknya yang disabilitas lantaran malu, Prima justru seakan mengumumkan pada dunia bahwa ia sedang berjalan bersama anak tunanetra. “Ya, kalau diumpetin terus, kasihan dong anaknya, nanti jadi nggak percaya diri,” ujarnya diiringi tawa renyah.
Tatapan aneh, heran, atau iba sudah sering dirasakan wanita berjilbab itu ketika bepergian bersama Balqiz. Pertanyaan demi pertanyaan orang-orang yang penasaran pun dijawabnya dengan santai dan sebaik mungkin. Rasanya tidak perlu malu memiliki anak disabilitas, jika kehadirannya dapat menjadi bahan pembelajaran bagi lingkungan. Prima ingin masyarakat tahu, bahwa tunanetra itu terdiri dari berbagai usia. Mereka semua memiliki hak yang sama di ruang publik. “Kalau lihat tunanetra dewasa ‘kan udah sering, tapi kalau lihat yang sekecil Balqiz ini ‘kan orang masih jarang,”ujar wanita 43 tahun itu, ramah.
Ketua dari Yayasan Balita Tunanetra itu ingin sekali melatih Balqiz untuk dapat mandiri sesegera mungkin. Prima ingin agar putrinya itu kelak dapat bepergian sendiri meski tidak ada yang mengantarnya. Itulah sebabnya, ia membiasakan Balqiz memegang tongkat ke mana pun putrinya itu hendak pergi.
Prima mengakui, menerima dengan tulus ikhlas kondisi disabilitas seorang anak memang berat. Akan tetapi, ia sangat sadar bahwa tiap anak memiliki masa depan. Semua hal yang ia lakukan untuk Balqiz semata-mata adalah pembekalan agar putri kecilnya itu dapat tumbuh dan berkembang seperti anak-anak pada umumnya. Prima berharap agar Balqiz telah mampu mengurus dirinya sendiri saat ia tidak lagi bisa merawatnya. “Aku ‘kan nggak pernah tahu seberapa panjang usiaku, dan seberapa lama aku bisa menjaga Balqiz,” tukasnya.
Editor: Putri Istiqomah Priyatna
Friday, February 24, 2012
bukan wanita berhati baja
Perlu waktu sehari semalam untuk mengendapkan amarah dan kemudian berpikir jernih sehingga bisa menuliskannya di sebuah tulisan. Lagi lagi sebuah proses pembelajaran dalam menjalani hidup ini. Tidak berharap ada yang membaca note ini, hanya curhatan diriku yang ingin aku dokumentasikan.
Selasa 21 Februari 2012, seusia kelasnya ibu guru memberikan informasi bahwa hari itu Balqiz terlihat sangat kelelahan dan batuknya terlihat semakin mengganggu. Ya, Balqiz memang sedang batuk. Dalam periode Januari Februari sudah 3 kali berkunjung ke dokter dan dihantam oleh obat obatan. Sebenarnya tidak hanya Balqiz, namun Alifah dan aku sendiri juga bergantian saja batuk dan pilek. Rasanya badan memang tidak benar benar fit dalam dua bulan ini. Kemungkinan faktor cuaca yang tidak nyaman saat ini disamping faktor kelelahan.
Setelah makan siang dirumah, Balqiz aku minta masuk kamar buat istirahat. Dan tidak lama berselang aku lihat Balqiz sudah tertidur. Sebenarnya jika Balqiz tidur siang, aku tidak pernah merasa senang. Karena bukan kebiasaan Balqiz untuk bisa tidur siang, seolah energinya tidak pernah habis. Jadi kalau dia sampai tidur siang, memang dia merasa sangat lelah atau badannya tidak sehat. Saat itu sebenarnya buat aku selalu bikin deg-deg-an. Kekuatiran dirinya mengalami kejang selalu menghantui. Mengukur suhunya tidak terlalu mengkuatirkan, 37,8 namun kakinya terasa dingin sehingga segera aku bungkus dengan kaos kaki. Jadilah emak menjelma satpam yang mengawasi tidurnya. Dan memutuskan sorenya kembali absen ke dokter Idham di rsia Hermina Jatinegara, dokter anak yang merawat Balqiz sejak lahir.
Suasana rs hari itu ramai sekali, aku sudah berusaha datang lebih awal agar bisa mendapat nomer panggil awal guna mengantisipasi kondisi Balqiz tidak tantrum tetapi tidak berefek banyak. Karena memang sedang banyak pasien. Sempat membatin sendiri,.. duh ini rumah sakit kok sudah seperti pasar ya ramainya. Segala macam cara aku lakukan untuk mengalihkan perhatian Balqiz akan keramaian yang ada di sekitarnya. Dari yang berusaha mencari tempat duduk yang agak terpisah, membunyikan berbagai bunyi bunyian ditelpon seluler, hingga membuka netbook ku stay tune di youtube bersama ‘timmy time’ dan ‘upin ipin’ yang menjadi favorite Balqiz. Namun tetap saja pada akhirnya kebosanan mulai melanda Balqiz. Mulailah dia berdiri dan loncat loncat dilanjutkan berjalan mondar mandir sembari berceloteh bertanya ini itu. Tidak jarang langkahnya membentur tembok, kursi atau tangannya tersentuh kepada orang yang ada disekitar.
Sepanjang masih happy dan tidak mengganggu, aku masih mengawasinya beberapa langkah dibelakangnya sembari berulang kali meminta maaf kepada orang orang yang tertabrak atau tersentuh Balqiz. Berbagai macam reaksi yang aku peroleh. Ada yang tersenyum memaklumi, ada yang hanya melirik, ada yang memperlihatkan ekspresi tidak senang karena merasa terganggu. Aku masih tidak peduli sepanjang Balqiz masih oke oke saja dan tidak menunjukkan tanda tanda ‘tantrum’.
Hingga akhirnya pada saat aku harus antri di kasir, dimana cukup panjang antrian di depanku, masih ada sekitar 4-5 orang. Balqiz merasa bosan dan terikat karena aku memegang tangannya erat dan melarangnya bergerak menjauh dariku. Protes mulai dilayangkan, mulai dari berteriak, mencoba melepaskan pegangan tangan, hingga akhirnya meronta ronta.
Akhirnya membuat aku keluar dari antrian yang sudah susah payah aku jalani. Mencoba menenangkan Balqiz, memeluknya dan berbisik di telinganya. Cukup lama aku memeluknya barulah Balqiz mulai tenang dan kemudian menerima penjelasan dan menerima tawaran ‘reward’ yang akan dia terima jika Balqiz mau bantu ibu untuk antri di kasir.
Sesaat mengambil barisan di antrian baru, seorang ibu menarik tangan kiriku. Rupanya beliau sudah cukup lama mengamati kami berdua.
“bu, thu anaknya ngeliatnya pake apa?”
“emang gak diobatin bu?
Terkesima atas teguran beliau membuatku tidak bisa berkata apa apa, terlebih kemudian perhatianku terpecah mengkuatirkan Balqiz yang mulai berdiri dengan gelisah.
Seketika dikuasai amarah yang membara yang membuatku beberapa detik terdiam dan terpaku. Pelukan tangan kananku pada badan Balqizlah yang masih bisa membuatku ‘waras’ dan menyadari sedang berada di tempat umum.
Yang bisa aku lakukan hanya menepis tangan beliau dan melangkahkan kakiku maju ke meja kasir dimana giliranku untuk membayar sudah tiba. Komat kamit dalam hati menyuarakan mantera ‘sabar im, tenang im, kuat im, inget ada Balqiz, anggap aja orang gila’, dan sebagainya.
Tantangan membawa ABK keluar dari rumah dan berada di tempat umum atau keramaian sebenarnya bukan pada diri ABK-nya saja tetapi juga merupakan tantangan dan uji mental bagi keluarga.
Harus di akui masih banyak keluarga yang memiliki ABK lebih memilih untuk meninggalkan ABK-nya dirumah pada saat harus keluar rumah. Berbagai alasan akan dikemukakan, intinya sebenarnya keluarga belum siap menerima berbagai reaksi dari masyarakat akan keberadaan ABK-nya.
Pada saat ABK masih kecil, kondisi kekhususannya masih bisa di ‘sembunyikan’ dengan menempatkannya di stroller atau menggendongnya. Namun apabila anak sudah mulai besar tentunya hal tersebut sudah sulit dilakukan. Keberadaan ABK di tempat umum sudah pasti akan menarik perhatian orang-orang di sekitar.
Sebenarnya, aku orang yang kuat mental membawa Balqiz ke tempat umum. Dan biasanya sudah mati rasa bin masa bodoh dengan berbagai mata yang memandang kami, sudah biasa menerima penolakan akan keberadaan kami. Namun, aku juga bukan superwoman yang hatinya terbuat dari baja. Aku tetap manusia biasa. Yang mempunyai kondisi emosi juga gak selalu stabil.
Jika saat itu situasinya nyaman, Balqiz juga tidak tantrum, berbagai pertanyaan dari A-Z pun akan aku ladeni dan dengan senang hati aku akan berbagi. Namun kondisi saat itu benar benar dalam situasi yang tidak nyaman, aku sendiri sedang capek, tidak sehat juga, sedang berusaha menenangkan anak yang tantrum, so… feedback apa yang bisa diharapkan dari sebuah sapaan yang terdengar ‘menghakimi’?
Dalam kondisi tenang dan nyaman, aku akan bisa menjelaskan bahwa Balqiz melihat dengan menggunakan semua panca indera yang dimiliki kecuali matanya, dan upaya pengobatan yang kami upayakan sudah maksimal yang bisa kita, selaku orangtuanya, lakukan. Orangtua mana sih yang tidak melakukan ‘apa-apa’ demi buah hatinya?
Peristiwa ini membuatku teringat akan sebuah pertanyaan dari seorang sahabat,..
‘Bun, sebaiknya kita thu harus bersikap bagaimana jika menghadapi ABK dan keluarganya’
‘Apa yang bunda inginkan dari kita kita ini jika menghadapi ABK?’
Pertanyaan itu sempat terlontarkan namun rasanya memang saat itu aku belum menjawabnya. Dan situasi yang baru aku alami ini membuatku kembali teringat.
Sebenarnya tidak banyak yang kami harapkan dari orang-orang sekitar saat kami berada di ruang publik. Berikan kami kesempatan dan privacy yang sama dengan orang-orang memberikannya pada orang-orang lain. Kami juga bagian dari orang-orang itu dan bukan makhluk aneh yang harus ditatap dari ujung kepala hingga kaki, dan jika ingin menyapa, bertanya, berkenalan sebenarnya kami juga akan dengan senang hati menyambut, hanya mungkin juga lihat kondisi kami jika ABK yang kami bawa dalam kondisi tenang, tidak dalam kondisi yang kita sedang mencoba menenangkan atau berusaha membuat nyaman sang ABK. Dan tentunya sapaan serta pertanyaan yang baik dan sopan tidak menyakiti atau menghakimi kami.
Dan satu hal yang perlu juga menjadi peer bagi para orangtua, mengedukasi anak-anak bahwa diantara mereka banyak juga anak anak yang memiliki kebutuhan khusus, sehingga anak anak tidak perlu merasa takut atau heran atau memandang ABK dengan tatapan yang seolah olah ABK berasal dari ruang angkasa. Kebanyakan orangtua jika mendapat anaknya sedang memperhatikan atau menatap seorang ABK yang berada di ruang publik, biasanya akan membentak dan menarik tangan sang anak guna menjauh. Buat sang anak malah akan semakin penasaran, dan buat kami akan membuat diri dianggap sesuatu yang ‘aneh’ yang harus dijauh, dihindari.
Thursday, February 2, 2012
in memoriam ayah nadjib
Beliau memang sudah lama menderita sakit, kurang lebih kami merawatnya 1,5 tahun sejak serangan stroke di bulan September tahun 2010 yang lalu. secara perlahan kondisinya menurun sejak 3 bulan terakhir.
Kami merawat beliau dirumah, dengan seorang perawat yang mendampinginya selama 24jam dan secara berkala seorang perawat dari rumah sakit juga memantau beliau.
Ayah Nadjib seorang pribadi yang baik, tidak banyak bicara dan semasa beliau masih sehat sangat perhatian kepada anak dan cucu. Beliau sayang sekali kepada Balqiz. Dan satu pesan beliau yang aku ingat di hari pernikahan aku dengan abang, saat sungkem kepada beliau, kata kata yang dibisikkan adalah 'yang sabar ya sama rustam',... Banyak kenangan manis yang terpatri dalam benak semasa beliau sehat.
Selamat Jalan Ayah,.. Semoga tenang disisiNYA