Thursday, December 13, 2012

bunda goes to Kalimantan - Surabaya (part 4)



D-day, Sabtu 20 Oktober 2012
Pukul 04.00 wita, terbangun karena deringan alarm yang meraung raung. Hadeuh…. Jam 04.00 wita kan artinya jam 03.00 wib yak @_@. 

Ibu Maria sudah terdengar sibuk diluar sana, sementara si kembar Kezia dan Lina saling berebut untuk segera bangun, memanjatkan doa dan mandi. Hahahahaha…. lucu rasanya mendengar pertengkaran mereka berdua memperebutkan siapa terlebih dahulu yang berhak memakai kamar mandi. Mungkin kelak si kembar Alifah Balqiz pun bertingkah yang sama ^_^.

Soal mandi di waktu dini hari ini, sudah sejak semalaman direncanakan oleh mereka berdua. Kezia dan Lina berhitung sendiri bahwa saat ini dirumah mereka ada 7 orang, sementara kamar mandi yang tersedia hanya ada 1. Mereka akhirnya menyimpulkan bakal terjadi antrian yang heboh disaat mandi ^_*



Jadilah mereka berdua bergegas mandi. Asli ini mata rasanya sepet banget plus kayak ada lemnya. Akhirnya sang tamu yang gak tahu diri ini, meneruskan tidurnya dan baru benar-benar terbangun satu jam kemudian, itupun terbangun karena mendengar kicauan burung dari luar jendela kamar. 

Amaze aja bisa mendengar kicauan burung diluar jendela tanda hari baru sudah tiba. Udara terasa sejuk dan tidak terpapar polusi. Sebuah moment di pagi hari yang jarang bisa diperoleh.



Kezia dan Lina sudah mandi, sedang berlatih bernyanyi diiringin petikan gitar dari Pak Sigid. Sementara Pak Dohar dan abang Enrique sudah berangkat hendak menurunkan spanduk yang terpampang di tengah kota serta memasangnya kembali di gedung sekolah serta mau melakukan finishing menataan dan persiapan seminar. 

Sementara itu Ibu Maria tampak sudah menyiapkan sarapan nasi goreng, dan roti. Bibirnya sih masih tersenyum dan menanggapi candaan yang terlontar hanya raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan ketegangan. Hingga pukul 23.00 wita semalam, ternyata masih ada saja peserta yang melayangkan sms untuk meminta kuota tempat pada seminar. Sebuah respon antusiasme dari masyarakat yang sungguh luar biasa memang. Berbagai kekuatiran akhirnya terlontar dari bibirnya bahwa dia kuatir akan keterbatasan tempat, kemudian juga ketersediaan konsumsi namun disisi lain Bu Maria juga tidak tega menolak permintaan tersebut. Dilemma.


 
Pukul 06.30 wita setelah menyelesaikan sarapan, bunda bersama Bu Maria dan KezLin meninggalkan rumah terlebih dahulu, sementara Pak Sigid akan menyusul kemudian bersama Pak Dohar dan Enrique. 


 
Menikmati suasana pagi hari di jalanan Tanjung Bara menuju Sangatta terasa sepi, terlebih mengingat hari ini adalah hari Sabtu, saat libur akhir pekan tiba. Jalur rel konvenyer yang melintang diatas jalanan di kawasan Tanjung Bara juga terlihat sepi tidak ada aktifitas kereta yang mengangkut batu bara seperti yang sempat terlihat kemarin.

Tiba di sekolah, sudah lebih rapi dan siap menerima para peserta seminar. Spanduk besar yang semula terpasang di tengah kota sudah berpindah menutupi sebagian sisi gedung, berfungsi juga sebagai penanda gedung supaya terlihat dari kejauhan.



Bunda juga segera membantu sana sini untuk persiapan akhir. Tak lupa juga bunda menata standing Banner milik Yayasan Balita Tunanetra, dimana bunda dan Bu Maria bernaung. 


 
Beberapa teman Ibu Maria yang menjadi panitia juga sudah mulai berdatangan dan saling berkoordinasi mengenai tugas-tugas mereka. Sebuah acungan jempol buat para Ibu-ibu atas kerjasama dan kekompakannya. 
  
Acara dijadwalkan dimulai pada pukul 08.00 wita untuk registrasi peserta, namun pada pukul 07.30 wita sudah terlihat beberapa peserta yang berdatangan dan tidak sabar melakukan registrasi. 


 

Wednesday, December 12, 2012

bunda goes to Kalimantan - Surabaya (part 3)



Setelah urusan bagasi selesai, 


segera meluncur menuju rumah ibu Maria di Batu Putih. Hanya berkisar 5 menit perjalanan dari bandara menuju rumah. Suasana sepi, tenang segera menyambut kehadiran bunda. Seakan waktu berhenti sejenak dan kemudian berjalan lambat. Bertolak belakang sekali situasinya dengan Jakarta. ‘sesuatu’ banget rasanya :) 



 Tidak lama berada dirumah bu Maria, setelah beberes sebentar, kita kemudian langsung keluar lagi ‘turun’ menuju kota. Hehehehehe… yup. Istilah ‘turun’ dipergunakan sebagai pengganti kata ‘pergi’. Sepanjang perjalanan kita bercerita banyak. Maklumi dah lama tidak bertemu dan bertukar gossip cerita.




Tibalah kami di pelataran sebuah bangunan berbentuk rumah panggung, “Selamat Datang di Bahasa Hati” ujar Pak Dohar disertai senyum dan jabat eratnya menyambut kami, sesaat turun dari mobil. 



 
Sontak terjadi keriuhan oleh teriakan dua gadis cantik dari dalam bangunan. Si kembar Kezia dan Lina yang riuh menyambut kedatangan kami, juga ibu guru mereka ibu Fira Agustin. 


Luapan rasa rindu tertumpah. Rasa senang, haru baur menjadi satu. Setelah puas melepas rindu, barulah bunda bisa melihat sekeliling. Bangunan rumah panggung ini adalah Gedung Sekolah Bahasa Hati. Sekolah Luar Biasa yang didirikan oleh pasangan suami istri Bapak Dohar A. Nasution dan Ibu Maria Maghdalena Pohan. 


Beberapa bagian memang masih memerlukan pembenahan. Di ruang utama sedang ada kesibukan setting ruangan untuk keperluan acara esok hari. Segera lebur dalam kesibukan ikut menata ruangan. 




Ibu Maria sedari tadi tampak sibuk menerima telpon dan menjawab sms yang masuk untuk konfirmasi kehadiran peserta seminar esok. Deadline konfirmasi sebenarnya sudah berakhir, namun antusias calon peserta masih mengalir untuk bisa memperoleh tempat dalam acara tersebut.


Sekitar satu jam berjalan, kami kemudian pergi untuk makan siang dan menjemput Enrique terlebih dahulu di sekolahnya. Enrique adalah putra sulung dari Ibu Maria. Kita memasuki kota Sangatta dan memilih makan di resto ayam goreng. Selesai makan kembali ke sekolah dan menyelesaikan penataan ruangan serta persiapan berbagai keperluan. Termasuk koordinasi dengan panitia. 

 
Tidak terasa sudah pukul 19.00 wita dan melihat bahwa rasanya sudah siap semua, kami segera pulang ke rumah Batu Putih. Selesai mandi dan makan malam, bunda kembali membantu membongkar bawaan dari Jakarta. Takjub dan luapan terimakasih tidak terkira diucapkan oleh keluarga Pak Dohar atas sumbangan alat peraga dari teman-teman. 


Kemudian muncul Jeng Lia dan Pak Bangun tetangga rumah yang ikut membantu menyelesaikan berbagai persiapan.


Akhirnya rasa lelah bergelayut dan nyerah juga bunda. Tidur bersama Kezia di sebelah kiri dan Lina di sebelah kanan diwarnai celoteh mereka sebagai pengantar tidur. Senyum bahagia tersungging di bibir mereka berdua.


Tuesday, December 11, 2012

bunda goes to Kalimantan - Surabaya (part 2)



Landing di bandara Sepinggan Balikpapan waktu menunjukkan pukul 08.05 wita. Bunda segera menyesuaikan penunjuk waktu di jam tangan sesuai dengan waktu setempat. Malas rasanya harus mengingat adanya perbedaan waktu jadi milih praktisnya aja, lagi pula gak lucu aja terlambat hanya karena salah melihat penunjuk waktu yang masih pake wilayah barat.




Cuaca agak mendung, tapi hati bunda berbunga bunga dan cerah banget ^_*

Sudah lama mengangankan bisa kembali datang ke bumi Borneo ini dan here I am!! 27 tahun sejak meninggalkan Samarinda untuk pindah ke Jakarta.

Atas petunjuk Bu Maria kita segera menuju kantor K*C yang terletak di luar area kedatangan tetapi tetap di area Terminal 1. Menemui mbak Santi yang nanti akan membantu kami dalam urusan penerbangan menuju Sangatta. Masih punya waktu sekitar 2,5 jam sebelum waktu boarding. Bunda dan Pak Sigid kemudian memilih salah satu resto dan sarapan. Lapeerrrr je.

Bunda menyebut perjalanan ini adalah perjalanan silaturahmi. Jadi segera dong kontak2 dengan teman-teman yang berada di bumi borneo ini, siapa tahu bisa bertemu, dan narsis bareng bukti sudah kopdar. 

Ternyata jeng Rimbawanti juga ada di bandara Sepinggan sedang menunggu penerbangan menuju Jogjakarta. Ya wes segera meluncurlah Bunda menuju lounge dimana mama icel berada. Whuaaaaa ternyata semalam sebelumnya mengalami accident di dapur berakibat luka bakar di kakinya. Hiks….. semoga cepat sembuh ya jeng. Daaaaannnn gak lupa dong foto-foto dulu ^_^




Tidak lama kemudian dapat kabar di bbm kalau sahabat bunda di masa smp dulu, jeng Hasty Mawarina sedang meluncur ke bandara Sepinggan dan akan nemui bunda. Senangnya bisa bertemu kembali setelah 27 tahun berpisah. Saat berpisah dulu kita masih duduk di smp. Lulus dari smpn 1 samarinda, bunda melanjutkan ke sman 3 samarinda, sementara Rina, begitu panggilannya, melanjutkan ke sman 2 samarinda. Sekarang sama sama udah jadi emak-emak.





Ternyata gak bisa lama-lama ngobrol karena waktu buat boarding sudah tiba. Dibantu oleh karyawan kantor K*P kami masuk ke terminal keberangkatan dan check-in melanjutkan perjalanan menuju Sangatta dengan mempergunakan pesawat Cassa dari Airborne.

Saat check-in selain boarding pass, kami juga diberikan ear-plug untuk dipergunakan selama penerbangan.




Dan…. Yang bikin seru dan jadi bahan candaan, selain barang bawaan yang harus ditimbang, berat badan penumpangpun juga harus ditimbang. Hahahahahaha ^_*




Pesawat jenis Cassa yang akan ditumpangi jenis pesawat kecil (CN 235) dengan kapasitas penumpang 17 orang termasuk kru pesawat. Aman dan safety, tapi  boong banget kalo gak bikin jiper sang bunda yang sok perkasa ini. Sebenarnya yang bikin rada jiper karena melihat langit diluar sana sedang mendung tebal dan gelap. Kalau cuaca terang dan cerah barangkali ke-jiperan bunda gak segede ini. 
 

 

Tapi ya sudahlah,…. The show must go on katanya. Jadilah masuklah ke dalam badan pesawat cassa dan….. terbang.
  




45 menit penerbangan yang cukup membuat perut serasa dicubit. Beberapa kali pesawat harus terayun dibawa alur awan dan beberapa kali harus menukik menghindari awan. Jangan tanya turbulensinya. Itulah kenapa diberikan ear-plug pada setiap penumpang supaya mengurangi dampak pada telinga. Lega rasanya begitu melihat daratan kembali dan landing dengan aman. 





Mendarat di bandara TanjungBara, Sangatta Kalimantan Timur. Kantor bandara di depan bunda adalah sebuah bangunan kayu dan tidak besar. Sahabat bunda, Diana Indah, menggoda bahwa senyum bunda terlihat sumringah banget. hahahahahaha.... merdeka euy!





Sudah menunggu di pojokan sana Ibu Maria Pohan sang nyonya rumah bin empunya hajat yang menjemput kami. Senang rasanya bisa bertemu kembali dengannya setelah beberapa bulan dari pertemuan terakhir di bulan Juni 2012.







Welcome to Sangatta.


Monday, December 10, 2012

bunda goes to kalimantan - surabaya (part 1)

Hahahahaha jadi malu ati dah,… udah dua bulan terlewat baru sempet nulis. Tapi ya gpp deh timbang gak ditulis sama sekalikan……. Jadi biar terlambat tetep aja nulis. 

Bulan oktober kemaren bunda melakukan perjalanan panjang dan lama, dalam waktu 5 hari menjelajah 4 kota. Yup buat bunda 5 hari itu lumayan lama karena bunda pergi sendiri tanpa si kembar. Whuaaaaaaa asli banget menjelang keberangkatan berasa seru aja karena sudah lama gak pergi, sudah lama gak ‘me time’, dan yang bikin seru adalah tujuan perjalanan bunda ini. Kalimantan Timur!!!!

Begitu Bu Maria Pohan sahabat bunda menawarkan sebuah pekerjaan di Sangatta, gak pake mikir lama dan gak pake nanya dulu ke juragan, bunda langsung iyakan. Hahahahaha urusan exit permit belakangan, yang penting iya dulu. Dan seperti diduga, sang juragan tidak bisa berkutik langsung meng-acc proposal exit permit yang bunda ajukan. Horeeeeeeeeeee Kalimantan, I am coming.

Exciting banget karena setelah 27 tahun, Alhamdulillah bunda diberi kesempatan untuk datang kembali ke bumi Borneo. Segera menyusun rencana dan strategi, halah… gayanya. Awalnya tidak ada rencana buat mampir ke Surabaya, namun sang juraganlah yang nawarin kenapa gak sekalian mampir ke Surabaya buat nengok mbah uti. Sebenarnya rencana berkunjung ke Surabaya ada di skedul bulan berikutnya, tapi demi kepraktisan dan mumpung sekalian pergi jadilah berubah rencana.

Whuaaaaa bunda gak nolak dong kesempatan itu. Jadilah merubah rencana disusul hunting tiket. Itulah enaknya kalo sudah ada rencana jauh-jauh hari, bisa dapetin tiket promo dari berbagai airlines yang sangat terjangkau. Dan jujur bunda bukan orang yang loyal hanya pada satu maskapai penerbangan saja, buat bunda gak penting apa maskapainya yang penting bisa dapat tiket promo yang murah. Dalam rangkaian perjalanan ini bunda mempergunakan empat maskapai penerbangan yang berbeda.

Hahahahaha… kok gak penting maskapainya, itulah berkat punya banyak teman yang berkecimpung dalam dunia penerbangan, bunda dapat bocoran bahwa pesawat itu sebenarnya adalah alat transportasi yang paling aman. Karena setiap sebelum terbang ada berbagai prosedur yang dilalui sehingga layak terbang. Kalau memang gak layak buat terbang ya pasti tidak diberikan ijin terbang. Heeeiiii kok jadi ngomongin penerbangan yak. Balik ke laptop cerita,.. 

Persiapan mateng banget deh, karena selain mempersiapkan keperluan si kembar dan juragan selama ditinggal bunda, juga persiapan akan bawaan yang mau dibawa. Nah ini diaaaaa hahahahahaha. Berhubung tujuan utama bunda ke Kalimantan Timur adalah ke Sangatta, dimana akan ada acara seminar dan pembukaan sekolah, Ibu Maria Pohan sang empunya hajat menitipkan banyak pesanan. 

Selain itu bunda juga membawa banyak alat peraga sumbangan dari teman-teman untuk sekolah Bahasa Hati. Bisa kebayang kan serunya. Bunda bahkan gak bawa koper lagi, perlengkapan pribadi dibungkus plastik dan di packing bareng dengan alat-alat peraga yang mau dibawa. Hahahahaha… 

Urusan packing selesai, bahkan manggil tukang sol sepatu yang lewat depan rumah buat njahit tas plastik yang bunda pakai. Biar aman dan rapi hingga sampai tujuan. Yang jadi problem lanjutan adalah urusan berat dari bawaan itu. Total jendral beratnya adalah 59kg, sementara jatah bagasi buat 2 orang adalah 40kg. artinya ada 19kg over weight. Gpp kata bu Maria, bawa aja. okelah kalau begitu. Siap!!!!


Hari H, Jumat 19 Oktober 2012. Sejak semalam sebelum berangkat tidur, bunda sudah pesan taxi biru untuk mengantar ke bandara soeta. Karena bunda harus berangkat dini hari pukul 02.30 wib dari rumah jadilah memilih cara praktis diantar taxi daripada diantar supir atau diantar sang juragan. Gak takut? 

Hmmmm… rasa takut terkalahkan rasa kepraktisan ^_* . adegan pamit dengan si kembar pun dilakukan sebelum tidur. Bangun tengah malam, dan langsung gedubrakan di dapur mempersiapkan bekal yang nanti akan dibawa si kembar dan juragan. Kelar urusan perbekalan, cek and ricek kembali bawaan yang akan dibawa, barulah segera mandi dan bersiap berangkat.

Alhamdulillah, sesuai janji pukul 02.30 wib taxi biru datang, diantar oleh satpam komplek yang berjaga. Adegan pamit dengan sang juragan pun singkat dan padat ^_*. Meluncurlah ke bandara soeta.
Whuaaaaaaaaaaa asli mantep banget dah menjelajah Jakarta saat dini hari, menikmati banget yang namanya kondisi lalu lintas yang sepi dan tanpa hambatan. Pondok Gede – Bandara Soeta hanya ditermpuh 45 menit saja. Wow.. gak pake koprol.

Bunda masih nunggu sekitar 20 menitan sebelum teman seperjalanan Pak Sigid Widodo sampai di bandara. Hehehehehe aslinya mah gak nungguin orangnya tapi nungguin biar bisa check-in bareng buat memanfaatkan jatah bagasi belio. Bunda sudah wanti2 dengan kejam kalo belio kudu bawa ransel aja dan tidak mempergunakan jatah bagasinya.


Segera check-in dan seperti dugaan semula yang emang over weight. Mencoba merayu mas-mas yang sedang bertugas di counter check-in untuk negosiasi upaya meminta pengurangan aka diskon, ternyata gagal. Kurang mantep rupanya rayuan bunda. Kelar urusan check-in dan bayar kelebihan bagasi, masih ada waktu sekitar 30an menit sebelum waktunya boarding. Bunda sempatkan buat shalat subuh dulu. Sempat terjadi antrian di mushala. Tempat yang kecil sementara yang mau melaksanakan shalat cukup banyak. Pas selesai shalat, pas terdengar panggilan untuk segera boarding. Alhamdulillah tepat waktu tidak terjadi delay.




Memanfaatkan waktu penerbangan selama 2jam dengan tidur. Ngantuk!!!!!