Friday, December 14, 2012

bunda goes to Kalimantan - Surabaya (part 5)



Tidak harus menunggu lama para peserta seminar segera memenuhi ruangan gedung sekolah Bahasa Hati. Tepat pukul 09.00 wita acara bisa dimulai. 




Dibuka oleh Ibu Maria Maghdalena Pohan selaku Ketua Yayasan Bahasa Hati. Beliau menyampaikan bahwa kehadiran Bahasa Hati merupakan pelengkap dari Sekolah Luar Biasa yang sudah ada. Berharap Bahasa Hati bisa berpartisipasi dalam pelayanan pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus. Sehingga akan semakin banyak ABK yang bisa mandiri dan berkembang sesuai dengan kemampuan dan talenta yang dimiliki.




Sambutan berikutnya dari Ibu Yuli Datubua mewakili donatur acara bercerita seingatnya sepanjang belio berada di Sangatta ini baru dua kali ada seminar parenting, yang pertama mengupas parenting secara umum dan jika yang bertemakan mengenai Anak Berkebutuhan Khusus baru kali ini dia temui.


 Sebagai tanda dibukanya seminar dan peresmian dari Sekolah Bahasa Hati ini, Ibu Maria dan Bapak Dohar A. Nasution melakukan pemotongan tumpeng yang kemudian diserahkan kepada narasumber.



Dalam acara seminar dengan tema “PERAN ORANGTUA DALAM TUMBUH KEMBANG ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS” ada tiga narasumber yang akan berbagi yakni Ibu dr. Meitha Togas, SpA mengupas kesehatan secara umum bagi ibu hamil dan anak balita khususnya Anak Berkebutuhan Khusus. Ibu Siti Latifah, Psi menyampaikan bahwa totalitas penerimaan orangtua atas ABKnya akan berdampak pada pesatnya tumbuh kembang. 



Sesi terakhir dari bunda Ibu Primaningrum sharing sebagai role models orangtua dari ABK.



Antusias para peserta sangat besar, pada sesi tanya jawab bertubi-tubi melayangkan pertanyaan. Seolah berlomba mereguk air disaat kehausan. Target peserta yang 50 orang akhirnya bisa mencapai 87 orang peserta seminar di sebuah kota kecil Sangatta adalah sebuah pencapaian yang luar biasa.



Sebagai apresiasi bagi peserta yang melayangkan pertanyaan, panitia memberikan doorprice majalah Diffa dan voucher berlangganan majalah tersebut selama 6 bulan. Wow…. gak pake koprol. Dari bincang-bincang singkat bersama beberapa peserta, mereka surprise bahwa ternyata ada ya majalah yang mengupas dunia disabilitas. 



Diakui oleh Pak Ariesto, Kepala Sekolah SLB Negeri Sangata juga menyampaikan bahwa dia sangat membutuhkan sekali berbagai informasi seputar dunia disabilitas, dan menanggapi  keberadaan majalah Diffa yang baru pertama kali dia pegang dan baca. Sebuah wawasan baru diterimanya. 




Dan keberadaan Sekolah Bahasa Hati akan menjadikan teman seperjalanan dalam melayani ABK, karena harus diakui bahwa terkendala akan daya tampung serta SDM di SLB Negeri yang juga terbatas. Sementara masih banyak ABK yang belum bisa mendapatkan kesempatan untuk belajar





Sementara Pak Suryo menyampaikan bahwa dia sangat senang sekali bisa hadir dan berpartisipasi dalam seminar ini. Bahkan meminta seminar seperti ini seharusnya bisa sering diadakan agar semakin bertambah ilmunya sebagai orangtua dari ABK, lagi-lagi mengutarakan keluhan betapa terpencilnya wilayah Sangatta ini dari berbagai ilmu, informasi dan wacana.
 

Tidak bisa dipungkiri lokasi kota Sangata yang harus ditempuh kurang lebih selama 8 jam perjalanan darat dari Balikpapan menjadi salah satu kendala kurangnya berbagai informasi yang dibutuhkan


Beruntung moderator acara Ibu Fira Agustin mengajak para peserta melakukan ice breaking dengan bernyanyi, melakukan gerakan terapi, bergerak mengikuti lagu, guna memecah kebosanan dan rasa ngantuk, sehingga semua masih bersemangat serta memberikan perhatian sepanjang acara berlangsung.



Di saat rehat lantunan merdu suara Kezia dan Lina menghibur pada peserta. Putri kembar Ibu Maria M. Pohan dan Bapak Dohar Nasution. Kezia dan Lina menyandang tunanetra karena Retinopathy of Prematurity (ROP) saat ini sudah berusia 11 tahun.
 




Kezia dan Lina sangat senang dan bangga bisa bernyanyi dihadapan hadirin semua, bahkan Kezia sempat menangis terharu.
 
Dan saat rehat itu pula peserta bisa berkeliling menjelajahi ruangan-ruangan yang ada di Sekolah Bahasa Hati. Mereka sangat tertarik sekali melihat berbagai alat peraga yang dimiliki Bahasa Hati. Berbagai puzzle, balok, alat-alat permainan yang bisa berfungsi melatih motorik halus. Jika melihat harga dasar dari berbagai permaianan/ alat peraga tersebut tidak terlalu mahal, kisaran harga dari rp. 15.000,- – rp 185.000,- namun membuat menjadi mahal karena memperhitungkan biaya pengiriman/ pengadaan barang-barang tersebut yang masih harus didatangkan dari luar Kalimantan. Untuk itu Ibu Maria sangat berterimakasih banyak kepada para sahabat-sahabat yang sudah memberikan alat-alat peraga/ permainan tersebut. 


 
Akhir paparan narasumber ditutup oleh perenungan dari Bapak Sigid Widodo, Direktur YayasanPendidikan Rawinala – Jakarta. Menyimpulkan dari materi yang sudah disampaikan oleh ketiga narasumber sebelumnya, kemudian mengajak para peserta untuk merenung kembali, bahwa keberadaan Anak Berkebutuhan Khusus dalam sebuah keluarga adalah bukan sebuah petaka. Mereka hadir tanpa bisa memilih siapa yang menjadi orangtua mereka. Sama halnya dengan diri kita dahulu juga tidak bisa memilih siapa yang akan menjadi orangtua kita. Diajak untuk bisa memeluk buah hati mereka dan menyanyangi tanpa syarat. 



Sebagai penghargaan bagi para narasumber, Ibu Maria Pohan memberikan souvenir kenang-kenangan dari Bahasa Hati menutup rangkaian acara seminar


Sesi foto bersama yang penuh dengan keriuhan para peserta menutup perjumpaan di sore hari.


 

No comments:

Post a Comment