Tuesday, May 14, 2013

Identitas anak dalam pro dan kontra



Akhir pekan lalu, Ali - salah satu keponakan bunda, hilang. Berusia 4,5 tahun. Lepasnya Ali dari pengawasan ibu dan orang dewasa di sekitarnya adalah disaat kami berkunjung menjenguk ke salah satu rumah keluarga yang sedang sakit.

Merasa bosan dengan ‘obrolan’ dan situasi yang membingungkan bagi anak kecil, melihat penjual mainan melintas di depan rumah membuatnya merasa tertarik. Tanpa sepengetahuan siapapun, melesatlah Ali mengikuti sang penjual mainan. Dan rupanya hal tersebut membuatnya menjadi tersesat. Terlebih area yang dijelajahi bukan merupakan area yang setiap hari dikenali.

Tersadar akan ‘raib’nya Ali membuat kita semua menjadi panik, merasa waktu yang kami habiskan untuk berkunjung tidak lebih dari 30 menit. Namun dalam waktu 30 menit tersebut banyak yang bisa terjadi.

Kepanikan, bingung, sedih, rasa bersalah, marah seketika menyelimuti benak orangtuanya dan tentunya kami semua yang berada di sana. Segera mengatur strategi pencarian, membagi tugas area pencarian, menugaskan untuk menyampaikan pengumuman melalui pelantang suara di masjid, mencetak foto, menghubungi beberapa sanak keluarga, bertanya-tanya kepada warga sekitar, semua kami lakukan.

Detik berganti menit berganti jam, kegelisahan semakin menyeruak, cuaca yang tidak bersahabat dengan turunnya hujan deras membuat kondisi semakin menggelisahkan. Berbagai pemikiran serta merta berloncatan di dalam benak. Dering suara telpon selalu membuat terlonjak hati dan harapan cemas, demikian apabila ada kerabat yang kembali dari area pencariannya.

Hingga jelang malam tiba, sekali lagi kami mengumandangkan pengumuman melalui pelantang suara di mesjid. Sekitar setengah jam kemudian, datang dua remaja dengan langkah bergegas menghampiri rumah kakak ipar bunda yang menjadi posko. Mereka menanyakan apakah benar kami yang kehilangan seorang anak? Iya! Mereka menyampaikan bahwa di mesjid yang baru saja mereka lalui juga mengumumkan bahwa telah ditemukan seorang anak. Barangkali itu adalah anak yang kami cari. Seketika berhamburan dengan kencang diantar oleh kedua remaja tersebut untuk melihat kemungkinan tersebut.

Dan,……….

Alhamdulillah sujud syukur kami padaMU Ya Allah Ya Rabb. Anak itu benar keponakan bunda, Muhammad Ali Fikri. Cukup jauh langkah kecilnya melangkah, sekitar 3km jauhnya dari kami.
Menjadi sebuah pelajaran penting bagi kami semua, bahwa tidak boleh ada sedikit ruang lengah dalam pengawasan terhadap anak. Menjadi teguran keras juga bagi bunda, yang terkadang bersikap ‘sepele’ aaahhhh… si kembar main kok disekitar sini @_@
 
Belum hilang rasa cemas ini bergelayut, semalam melalui status seorang teman, menyuarakan kegundahannya akan hilangnya seorang sanak keluarganya. Yang mengkuatirkan anak tersebut adalah seorang penyandang Down Syndrome, yang mempunyai kesulitan berkomunikasi dan berorientasi lingkungan. 

Ikut merasakan kesedihan dan memikirkannya :(

Mengaitkan kedua kejadian ini, bunda kembali disentakkan akan sebuah diskusi yang sudah lama sekali. Bahkan bunda sudah lupa dengan siapa saja waktu itu kami berdiskusi. Bunda hanya mengingat materi diskusinya adalah “pemberian identitas” pada balita dan anak berkebutuhan khusus (abk) yang belum memiliki kemampuan berkomunikasi atau berorientasi dengan baik.

Diskusi tersebut menuai pro dan kontra. 

Apapunlah bentuk identitas tersebut, mulai dari gelang berukir nama dan nomer kontak, id card yang digantungkan pada lehernya atau disematkan di baju, maupun bentuk-bentuk lainnya.

Yang pro karena memikirkan bahwa lepasnya anak dalam pengawasan orang dewasa dengan memakaikan identitas anak akan dengan mudah membantu orang yang menemukan anak tersebut. Namun yang kontra memikirkan bahwa identitas tersebut bisa dengan mudah disalah gunakan bagi siapapun yang kebetulan membaca.

So,….. apa pendapat kalian wahai para orangtua yang baik hati dan tidak sombong ? 




Wednesday, May 1, 2013

wahai suami,...

tausiah hari ini :
Wahai para suami!
1. Apa yang memberatkanmu—wahai hamba Allah—untuk tersenyum di hadapan istrimu ketika masuk menemuinya, agar engkau memperoleh ganjaran dari Allah Ta’ala?

2. Apa yang membebanimu untuk bermuka cerah ketika melihat istri dan anak-anakmu, padahal engkau akan mendapatkan pahala karenanya?

3. Apa sulitnya apabila engkau masuk ke rumah sambil mengucapkan salam secara sempurna: “Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,” agar engkau memperoleh tiga puluh kebaikan?

4. Apakah yang menyusahkanmu jika engkau berkata kepada istrimu dengan perkataan yang baik, sehingga dia meridhaimu, sekalipun dalam perkataanmu tersebut agak sedikit dipaksakan?

5. Apakah menyusahkanmu—wahai hamba Allah—jika engkau berdo’a: “Ya Allah. Perbaikilah istriku, dan curahkan keberkahan padanya?”

6. Tahukah engkau bahwa ucapan yang lembut merupakan sedekah?

7. Apa yang memberatkanmu untuk membawa hadiah (oleh-oleh) untuk istri dan anak-anakmu ketika engkau pulang dari safar?

8. Luangkan waktumu untuk menemani istrimu membaca al-Qur-an, membaca buku-buku yang bermanfaat, dan mendatangi majlis ta’lim (majelis ilmu) yang mengajarkan al-Qur-an dan as-Sunnah menurut pemahaman para Sahabat.

9. Tahukah engkau wahai hamba Allah, bahwa jima’ (ber­setubuh) akan mendatangkan ganjaran dari Allah? Bahkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

(( مِنْ أَمَاثِلِ أَعْمَالِكُمْ إِتْيَانُ الْحَلَالِ – يَعْنِى النِّسَاءَ. ))

“Di antara amal perbuatan kalian yang paling utama adalah mendatangi (bersetubuh) yang halal, yaitu dengan istri-istri kalian.”

[Hadits shahih: diriwayatkan oleh Ahmad (IV/231), Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ (II/26, no. 1391), dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabiir (XXII, no. 848). Lihat: Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 441)]

Friday, April 19, 2013

melayangkan complain kepada manajemen Trans Jakarta



Hari ini, Jumat 19 April 2013 bersama si kembar, kembali bunda jalan-jalan dengan menggunakan moda angkutan TransJakarta ato orang lebih senang menyebutnya dengan ‘baswe’. Kesempatan seperti ini bukan yang pertama kali, karena intinya bagi kami adalah memanfaatkan “quality time” bersama ayah saat berangkat bersama-sama menuju kantor ayah, dan kembali ke rumah dengan moda angkutan umum.
Rute yang dilalui adalah naik dari halte depan Mall Artha Gading menuju Cililitan, dan nantinya akan berganti koridor di UKI melanjutkan rute tujuan akhir halte Pinang Ranti. 

Karena hitungan hari masih pagi ( pukul 08.30 wib), dan rute yang dijalani juga bukan rute yang ‘sibuk serta padat’. Si kembar bisa menikmati perjalanan dan bunda pun bisa leluasa menjadi ‘mata’ bagi balqiz bercerita banyak hal. 

Hingga kita sampai di halte UKI, dimana harus berganti ‘baswe’ dengan rute yang berbeda. Alhamdulillah petugas yang berjaga cukup sigap membantu bunda yang harus menggandeng si kembar di tangan kiri kanan.
Tidak lama menunggu di halte UKI, baswe yang menuju Pinang Ranti datang. Cukup banyak penumpang yang turun saat itu. Dengan sabar menanti mereka turun terlebih dahulu, barulah kita bisa masuk.

Nah saat mau masuk ke dalam badan bis tersebutlah, kejadian mengesalkan itu terjadi. Petugas yang berjaga yang seharusnya mengawasi penumpang turun dan naik badan bis, kalau-kalau ada yang membutuhkan bantuan/ pertolongan tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Dia malah bercanda dengan petugas crew halte (kebetulan wanita) dengan menarik narik tangannya dan menggodanya. 

Sementara saat itu bunda sedang mau melangkah masuk ke dalam bis dengan kedua tangan menggandeng alifah serta balqiz. Harus menggandeng anak dua serta harus memperhatikan langkah mereka berdua karena posisi badan bis yang tidak bisa ‘rapat’ dengan lantai halte. Alifah bisa dengan mudah melangkah walaupun penuh resiko juga bagi langkah kecilnya, sementara bagi balqiz? Tentunya bunda harus lebih konsentrasi dalam membimbing langkah balqiz. 

Seandainya petugas tersebut benar menjalankan tugasnya, tentu bisa membantu langkah alifah dan menjaganya sementara bunda konsentrasi mendampingi balqiz. Kenapa harus lebih konsentrasi dalam mendampingi balqiz, karena balqiz adalah penyandang tunanetra, sehingga dia tidak bisa melihat seberapa jauh dia harus melangkah supaya bisa aman masuk ke dalam badan bis

Namun yaitu, yang terjadi petugas tersebut, kemudian bunda tahu namanya adalah Rosyid, tetap bercanda hingga kami sudah masuk ke dalam badan bis dan pintu tertutup. 

Apes bagi Rosyid yang dihadapi adalah bunda! Segera omelan bunda layangkan. Dan sesampainya di halte pemberhentian akhir Pinang Ranti, bunda mencari petugas berwenang yang saat itu berjaga. Bunda melayangkan complain dilayani oleh Pak Dadang. 

Janji yang diucapkan Pak Dadang bahwa akan diberikan sangsi kepada Rosyid. Sebenarnya Rosyid juga sudah meminta maaf kepada bunda. bukan maaf yang penting disini. Namun keteledorannya dalam bertugas berdampak pada keselamatan penumpang. 

Seorang bapak yang mengetahui peristiwa itu, sempat menyeletuk, “toh gak apa apa kan, ngapain ribut” hehehehehehe maaf ya bapak tua, bapak salah nyeletuk kok sama bunda!! Apes ya pak… saya omelin juga.
Maaf, ya akan bunda maafkan. Namun, sikap ‘bercanda’ dalam tugas akan berdampak pada keselamatan penumpang, terlebih yang dihadapi adalah penumpang dengan membawa anak, penumpang lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas yang ‘mungkin’ membutuhkan bantuan/ pertolongan.

Mungkin yaaaa, walaupun mereka mereka sebenarnya membutuhkan bantuan dan kebetulan juga berhadapan dengan petugas yang ‘lalai’, yakin banget kalau sebagian besar hanya berdiam diri tidak bereaksi mengajukan complain walaupun di dalam hati memendam kekesalan.

Jika semua orang bereaksi diam saja, bagaimana bisa ada perbaikan? Bagaimana bisa penumpang mendapatkan haknya? Padahal penumpang sudah membayar jasa sebagai kewajiban. Dan bunda juga membayar untuk 3 orang penumpang. 

Makanya bunda bilang, apes bagi Rosyid karena yang dihadapi adalah bunda, yang tukang complain, tukang ngomel dan kebetulan juga sedang membawa si kembar dan salah satu dari mereka adalah penyandang disabilitas tunanetra. 

Sebenarnya tujuan complain tersebut bukan hanya sebagai shock terapy bagi Rosyid bahwa hal yang terlihat sepele mempunyai dampak besar. Juga menjadi perhatian bagi manajemen yang artinya belum secara serius memberikan pembekalan bagi petugas lapangan.

Dan membelajaran ajuan complain juga sebagai proses pembelajaran bagi si kembar. Bahwa jika mereka merasa ‘hak’ nya tidak bisa terpenuhi, mereka bisa mengajukan complain. Terutama proses pembelajaran ini bunda tujukan bagi balqiz. Sebagai penyandang disabilitas, balqiz harus punya keberanian untuk menyuarakan ‘hak’ nya. 

Thursday, March 28, 2013

koyo o koyo



memiliki anak diusia yang sudah tidak ‘muda’ lagi ternyata dampaknya luar biasa ya bagi tubuh ini. 7 tahun lalu saat melahirkan sikembar aku sudah menginjak usia 37 tahun, jadi hitung saja sendiri berapa usiaku di tahun ini. Terbayang kan bagaimana di usia tubuh yang sudah tidak muda lagi harus siap sedia setiap saat untuk ‘berlari’ dan tetap gesit mengawasi tumbuh kembang mereka. 

Gak bisa dipungkiri sama yang namanya pegal pegal selalu terasa. Salah satu andalanku untuk meredakan pegal adalah koyo. Cukup berhasil meredakan pegal atau ketegangan otot di betis, pundak atau punggung.

Segala macam koyo sudah aku coba. Dan ada beberapa yang cukup manjur, cespleng. Dannnn ada satu koyo yang jadi favoriteku. Buat aku, ini koyo mantep banget dan top. Cuma masalahnya adalah, ini koyo susah ndapetinnya selain emang dari sisi harga juga lumayan, dan konyolnya lagi, versi yang beredar di sini (Indonesia) gak se-mantep dan se-cespleng versi negara tetangga. Entah bedanya dimana, tapi emang sensasi rasa koyonya beda. Bukan karena embel-embel ‘impor’ minded ya.

Ukuran si koyo ini cukup lebar dan besar. Sehingga bisa dipotong sesuai dengan keperluan, atau kalau memang area yang mau di ‘relaksasi’ cukup besar ya 1 lembar sudah sangat cukup. Rasa panasnya gak terlalu nyengat, aturan waktu pemakaiannya dianjurkan dipakai selama kurleb 8 jam. Biasanya aku pakai dimalam hari. Yang aku rasakan di pagi hari saat bangun, Alhamdulillah rasanya otot sudah mereda dan rasa pegal hilang.

Alhasil, jika pada umumnya oleh-oleh yang diminta seseorang apabila ada yang habis berkunjung ke negara tetangga berupa coklat, baju, sepatu, miniatur souvenir, tidak berlaku buat aku. Aku memilih dibawakan si koyo ini.  Kadang kadang jadi bikin geli sama yang dititipin dan dikomenin “jiaaaa jauh-jauh gw pergi elo mintanya dibawain koyo, dasar nenek-nenek”. Hahahahahaha…. Ya ya ya harus diakui tubuh ini sudah menua ^_*.

Hayooooo siapa yang mau ngasih oleh-oleh buat aku ? ditunggu yaaa ^_^







Monday, March 25, 2013

otrik



Lagi seneng, lagi berbunga-bunga,.. hehehehehehe
Alhamdulillah dapat rejeki. 

Alhamdulillah barang yang udah lama banget pengen dipunyai bisa kebeli juga. Insya Allah berkah, dan semoga bisa segera ‘bersahabat’ dengan diriku. Barang apakah itu?

Oven!
Yup. Oven listrik. Ato kalo pinjem istilah gaolnya, Otrik. 

Aku ngerasa gak punya passion di dapur. Jadi apapun yang aku kerjakan di dapur kudu punya syarat, bahannya mudah dibeli, cara buatnya juga mudah gak pake ribet, gak pake bertele-tele, dan enak. 

Hahahahahaha, syaratnya rada rada edun emang. Dan kalo masih ada yang bisa masakin, mending orang lain aja deh yang masak. Trus kalo masih bisa pesen/ beli ya mending pesen/ beli aja. Kondisi itu dipermudah pulak dengan ayah utam yang emang gak terlalu musingin soal makan/ masakan, makin bersorak sorak gembiralah eikeh.

Cumaaaaa setelah si kembar makin gede, makin ngerti banyak jenis makanan, eikeh gak bisa sorak-sorak bin leha leha lagi. Tuntutan minta ini itu makin gencar. Jadilah turun gunung juga dah emake, dengan berbagai peralatan yang dipunyai otomatis ya cuma sedikit ragam yang bisa dibuat. 

Makanya waktu kejadian nemu harta karun berupa mixer yang sudah tersimpan selama 15 tahun di lemari buat aku adalah sebuah keajaiban. Makin banyak variasi yang bisa dibuat. Tapi tetep aja belum bisa macem-macem. Baru sebatas makanan olahan kukus, goreng karena belum punya oven untuk manggang.

Dalam hati niiiiiiiiiii…. Pengen banget punya oven.
Apapun lah oven tangkring atau oven listrik, pokoke punya oven. 

Jadilah kalo pas ke mall, supermarket trus liat ada benda oven, cuma bisa memantau harga dan mengelusnya sembari mbatin kapan ya bisa punya oven.

Sempat colek-colek dan berisyarat kepada ayah utam, tapi gak mempan juga thu colak colek eikeh. Dan keiknya gak ngerti juga bahasa isyarat yang udah setengah mampus eikeh lakukan. Alhasil ya wesssss…. Nabunglah. Bener-bener menyisihkan uang sisa belanja dapur yang receh-receh.

Sembari nunggu thu receh-receh pantes dituker sama oven, jadi demen liat berbagai macam model oven, memantau harga, mencari informasi plus minus dari jenis-jenis oven. Haissssss kesannya udah ‘mastercheef’ banget yak mpe segitunya. 

Sebenarnya gak juga neko neko kok kriteria ovennya. Yang jelas harus murah terjangkau dengan tukeran uang recehku, trus awet bin bandel dengan kondisi perlistrikan dirumah yang utama gak boros listriknya, trus operasional pemakaiannya juga mudah alias sederhana banget secara eikeh cuma chef abal-abal. Nemulah beberapa kandidat yang diincer. Info dah dapat, barang yang diincer dah ada, tapiiiii lagi lagi kendala ma dana.

Pasti ngebatin, segitu susahnya sih mau beli oven aja, lagi pulaaaa toh harga oven juga gak semahal harga berlian 5 karat. Tapi yaaaa namanya emak-emak, begitu ada uang lebih, ato udah ngumpul kok ya ada ajaaaaaa kebutuhan lain yang lebih urgent untuk di dahulukan. Alhasil si oven ngalah lagi.

Mpe akhirnya bener-bener si receh ini terkumpul, segera gak pake lama harus diwujudkan jadi oven, taraaaaaaaaaaaa ini dia si hitam ovenku. Alhamdulillah rejeki, pas ada promo diskon di C4 jadilah harga ovennya murah banget 299K saja. Gak sabar jadinya segera pengen bikin ‘sesuatu