Monday, May 26, 2014

change you word change your world



Pagi ini tanpa sengaja melihat sebuah tayangan di tv (jarang banget sengaja duduk manis di depan tv dan melihat sebuah tayangan. Selain emang gak suka nonton tv, gak sempat juga waktunya buat sekedar duduk manis berleha leha didepan tv), , entah di stasiun tv mana dan entah tayangan acara apa, tapi banyak yang bisa di renungkan. Berkaitan dengan kalimat diatas.

Tayangan menampilkan seorang tunawisma yang penyandang tunanetra. Dia duduk di sebuah taman kota, dan disisinya ada sebuah karton bertuliskan

“I’m blind, help me”

hingga jelang siang hari… tidak banyak yang berbagi sedekah (baca : uang koin) walaupun banyak yang lalu lalang di depannya.

Hingga lewat seorang wanita, dan dia melihat tunawisma itu,.. setelah melangkah beberapa langkah, wanita tersebut kembali dan meraih karton yang ada di sisi pak tua tersebut, dan menuliskan sesuatu disana dan kembali meletakkan ditempat semula. Pengemis tersebut sempat meraba sepatu wanita tersebut. Dan surprise…. Sesaat wanita tersebut beranjak pergi, hampir setiap orang yang lewat melemparkan koin dan banyak sekali.

Pengemis tersebut keheranan dengan kondisi seperti itu. Dan sore hari, sang wanita itu kembali melewati jalan yang sama dan menyapa pengemis tersebut, dengan meraba sepatunya sang pengemis tahu bahwa yang ada di depannya adalah orang yang sama tadi pagi dan yang membantunya membuat sebuah perubahan besar. Bertanyalah sang pengemis kepada wanita tersebut apa yang ditulisnya, apa yang membuat orang jadi banyak memberikan koin padanya, dijawab oleh sang wanita

Change your word
Change your world

Dan kalimat yang ditulis oleh wanita tersebut adalah

“Today is beautiful day, and I can’t see”

Betapa sebuah kata bisa merubah sebuah cara pandang,.. kalimat yang awalnya bernada pesimis, minta belas kasihan, akan membawa dampak yang negative juga, namun sebuah kata yang optimis dan ceria, membawa dampak semangat dan berakhir pada keberuntungan


Saturday, May 17, 2014

Padang, Day5

Kamis, 1 Mei 2014


Hari terakhir di Padang, program telah selesai. Dan kita semua akan kembali ke rumah masing-masing. Penerbanganku dan Grace kembali ke Jakarta baru sore pukul 16.35 wib. Kami masih punya waktu setengah harian di sini.

Rencana pagi ini, sudah janjian ketemuan dengan bu Ani Berthi, teman DSI yang kebetulan sedang berada di Padang juga. Janjian dengan teman lain namun sepertinya ada kendala, sehingga batal. Sementara Grace akan jalan dengan bu Ating, masih dalam rangka mencari sesuatu 

Sarapan hari terakhir ini, di resto tidak seramai kemarin-kemarin. Rupanya banyak yang memilih untuk pulang dengan penerbangan pagi hari. Saling bertukar sapa dan salam terakhir.

Sembari berkemas di kamar, menunggu kabar dari bu Ani yang akan ngabarin kalau sudah sampai di lobi hotel. Karena sebagian barang sudah dikemas semalam, sudah tidak banyak lagi yang harus aku rapikan.

Bengong nunggu dikamar, akhirnya melirik layar televisi. Hahahahaha…. Asal tau aja… ini televise sejak datang, gak pernah di nyalakan. 1. Aku gak suka nonton tivi. 2. Gak sempet karena segudang kegiatan yang dijadwalkan.

Dan entah apa juga yang tampil, aku sendiri gak memperhatikan, karena emang fokusnya gak ke sana, Cuma biar gak sepi aja dan iseng sembari menunggu.

Kabar dinanti datang, bu Ani sudah menunggu di lobi. Whuaaaaaaaa senang sekali bisa bertemu kembali. Pertemuan pertama waktu aku kerumah beliau di daerah bekasi, waktu itu aku pesan kue ke beliau. Beliau ini te o pe banget dah. Bikin kue apaaaa aja, ngajar juga, pegang catering juga. Super sibuk waktunya, padahal beliau juga punya putra abk juga.





Surprisenya lagiii…. Masih dibekeli oleh-oleh satu dus… hikss mpe malu, soale aku gak nyiapin apa-apa buat beliau. Terimakasih banyak ya bu, atas waktunya dan oleh-olehnya. Semoga pertemuan kita membawa barokahNYA #peluukkkk.

Kita check-out dari hotel pukul 13.00 wib, kali ini ada aku, grace, bu Ating dan pak Yudhi. Sementara pak Arief karena ada misskom saat pemesanan taxi, akhirnya terpaksa berangkat sendirian ke bandara dan barulah nanti kita bertemu kembali di sana.

Karena belum makan siang, kami mampir makan di RM Lamun Ombak. Akhirnya makan juga di restoran Padang yang ada di Padang 

Restonya besar, rame, daaaannn masakannya enak #jempol. Selesai makan, sempat beli pudding durian di konter depan restonya, niatnya dimakan sembari nunggu waktu boarding nanti. Siap menuju bandara Minangkabau.




Dari kita berlima, hanya bu Ating yang berbeda penerbangan, sementara aku, grace, pak Yudhi dan pak Arief akan berada dalam penerbangan yang sama menuju Jakarta dengan GIA. Cukup panjang perjalanan yang akan ditempuh pak Yudhi, karena setelah sampai di Jakarta, melanjutkan penerbangan ke Surabaya, dan lanjut dengan bis menuju Banyuwangi. Wow… kebayang betapa remeknya badan, karena baru esok hari akan tiba di Banyuwangi.




Karena waktu boarding masih lama, setelah check-in, kita duduk dan ngobrol di ruang tunggu. Wesss banyak yang diobrolin, sekaligus rame-rame makan pudding durian dan roti.




Nah terkait dengan roti ini…… whuaaaaaaaaa jadi ada cerita seru. Karena ukuran rotinya cukup besar, terpikir sesuatu untuk memotongnya. Teringatlah pak Yudhi akan pisaunya, yang ternyata dia lupa letakkan di bagasi. Ada di tas ranselnya. Enak sih… jadinya bisa buat motong roti, tapi kemudian berpikir lagi, ini pisau bagaimana nanti menyelipkannya? Dan ukuran pisau itu juga cukup besar. Akan menjadi masalah, karena pada tas bawaan cabin pesawat tidak diperkenankan untuk membawa benda tajam. Wesss jadi obrolan beranjak bagaiman tips dan trik menyamarkan si pisau.

Daaannnn…. Taraaaaaa
Tiba waktunya masuk ke Gate, karena sudah jelang waktu boarding. Satu persatu dari kita berlima masuk dan melewati security door. Sudah bisa ketebak…. Saat tas milik pak Yudhi melewati mesin X-Ray… seketika petugas bereaksi… ‘pisau..!’ . ‘ada pisau’ . ‘tas siapa ini?’

Tertahanlah pak Yudhi. Argumentasi dan diplomasi pun dilakukan, plus pemeriksaan mendetail demi keamanan. Wajah beliau dan juga wajah petugas terlihat sama-sama tegang.

Add caption


Jahatnya kami…. kami berempat malah cekikikan dan meledek belio dari tempat duduk kami yang sengaja kami pilih tidak jauh dari meja pemeriksaan. Akhirnya diambil kesepakatan, pak Yudhi harus kembali ke meja check-in dan menitipkan pisaunya di bagasi, dan nanti sesampai di Surabaya baru bisa diserahkan kembali. Pffuiiiihhhh lega win-win solution.





Saat boarding tiba, harus berpisah dengan bu Ating. Sampai bertemu kembali bu. Semoga tetap sehat dan sukses.

Lucunya lagi, walaupun kami terbang bersama dalam satu penerbangan, saat check-in  kami semua memilih seat sisi jendela semua dan itu harus, alhasil dapat seat terpisah yang penting dapat jendela….. hahahahaha serasa gak kenal jadinya.



Saat take off gak mulus, penilaian take off skala 1-10 ada di angka 6. sempet berasa pusing sejenak dan mual. baru reda setelah beberapa saat pesawat terbang stabil. sajian film-film yang tersaji pun gak mempan mengalihkan rasa mual, cukup terhibur justru dengan pemandangan alam diluar, sunset di atas langit padang. wow! Subhanallah....





hanya sedikit maskapai yang masih menyajikan hidangan yang sudah termasuk didalam harga tiketnya. kebanyakan untuk meals penumpang harus mengeluarkan kocek lagi untuk bisa menikmati hidangan, dan sudah bisa ditebak harganya pun mahal. Garuda Indonesia termasuk yang masuh menyediakan meals. dalam penerbangan kali ini yang tersaji lontong opor, puding, dan aku milih teh panas untuk minuman. kebiasaan kalo lagi pusing/ mual enaknya minum teh panas.





18.25 wib Mendarat dengan selamat di terminal 2 bandara Soekarno Hatta, dengan penilaian landing skala 7. Bad landing I think…. Captainnya gak pinter. Padahal cuaca bagus, tidak ada hambatan apa-apa #soktau




Saatnya mengucap salam kembali pada semua teman serombongan. Tiba diluar gate, disambut dengan teriakan si kembar alifah balqiz ‘Ibuuuuuuuuuuuuuuuuukkkkk’ dan di belakang mereka si ayah yang sok jaim Cuma senyum doang. Hahahahahaha…. Padaaaalll sebelum sebelumnya isian sms dan wa-nya udah desperado menghadapi si kembar.





Sebelum pulang, sempat makan malam dulu di Solaria bandara, baru kita pulang. Welcome home.

Friday, May 16, 2014

Padang, Day 4

Rabu, 30 April 2014

Terbangun pagi, dan bersama beberapa teman segera menyusun agenda hari ini dengan cepat. Diputuskan segera mencari kendaraan dan merancang tour sehari menjelajah Padang. Saat sarapan sibuk kasak kusuk daaaaannnn….

Pukul 09.00 wib kami meluncur……




Sepanjang perjalanan penuh dengan celoteh berbagai cerita dan pembahasan dari ke-7 emak-emak yang menjadi peserta tour. Aku, grace, bu Ating, bu Ririn, bu Sugini, bu Sukinah dan bu Rina. Kebersamaan selama beberapa hari yang intens mengakrabkan kami semua.

Tujuan pertama kita adalah Lembah Anai. Tempat pariwisata air terjun, letak air terjun ini berada di sisi jalan menuju Bukittinggi. Namun menuju di dekat air terjunnya butuh kehati-hatian untuk melangkah. Selain tangganya yang terjal, cipratan air yang terus menerus membuat batuan diselimuti oleh lumut yang licin. Cukup membahayakan jika tidak berhati-hati melangkah. Hahahahaha….. emak-emak narsis deh pose dengan berbagai model.



Tidak terlalu lama di sana, segera melanjutkan perjalanan. Melewati sate Mak Syukur tentunya tidak bisa dilewatkan begitu saja. Kita makan jelang siang di sana. Sebelum menyantapnya, aku wawancarain dulu mengenai unsur dari bumbu sate ini. jangan sampai terselip ada unsur kacang disana. Hasil wawancara menunjukkan kalau aman.




Segera terhidang di hadapan kita, piring bertatakan daun pisang tersaji diatasnya potongan ketupat dan siraman kuah sate padang yang berwarna kuning keemasan, dan di piring lain tumpukan tusukan sate benar-benar menggoda selera. Tidak menunggu lama, segera menyerbu.




Tengah makan….. baru ngeh ternyata bu Sukinah adalah seorang vegetarian,…. Whuaaaaaa maaf-maaf. Sementara bu Sugini dan bu Rina tidak terlalu menyukai aroma dan rasa dari kuah sate padang tersebut, dimaklumi bagi lidah ‘jawa’ memang rasanya sulit diterima. Hehehehehe berhubung aku ini jawa palsu, alias jawa yang sudah terkontaminasi lidahnya ya Alhamdulillah masih bisa menikmati.

Oya, satu hal yang baru kita ketahui saat membayar, ternyata tumpukan sate di piring yang tersaji itu tidak harus semuanya dihabiskan. Jadi saat kita memesan berapa piring, yang tercatat adalah piring ketupatnya. untuk jumlah sate, ya seharusnya sesuai saja dengan berapa banyaknya yang kita makan. nah kita pikir, tumpukan sate itu harus kita habiskan karena sudah termasuk dalam porsi yang kita pesan yakni 7 porsi. oalaaaaa.....

Lanjut perjalanan menuju kota Bukittinggi. Langsung menuju ke situs Lubang Jepang. Dan dari situs ini, terbentanglah Ngarai Sihanok. Subhanallah….. begitu besarNYA keagunganNYA. Suguhan pemandangan yang sangat menakjubkan. Dan semakin membuat diri ini kecil. Hanya saja disayangkan sarana prasarana yang dimaksudkan untuk pariwisata ternyata merusak dari situs tersebut dan sekaligus merusak pemandangan.



Ditawarkan untuk turun ke bawah dan mengarungi Ngarai berjalan di sepanjang ‘tembok cina’. Kami menolak karena selain tidak cukup mempunyai waktu banyak, kondisi badan juga tidak memungkinkan untuk melakukannya. Di situs Lubang Jepang ini terdapat gua/ lubang bekas peninggalan saat penjajahan Jepang. Menurut informasi lubang tersebut akan tembus pada sisi lain. Lagi-lagi kami memilih aman untuk tidak memasukinya



 Tujuan selanjutnya adalah Jam Gadang. Mascot dari bukittinggi. Dimana di seputar Jam Gadang ini juga terkenal dengan Pasar Bawah dan Pasar Atas. Kembali narsis dengan latar belakang Jam Gadang. Sebagian peserta tour ngabur ke Pasar, dan kami memberi waktu hanya 1,5 jam untuk berbelanja. Aku dan Bu Sugini memilih untuk duduk di area taman.

Sembari duduk ngobrol, teringat akan sesuatu yang ganjil pada Jam Gadang ini. yaaaa… angka 4 dalam romawi yang seharusnya tertulis IV tertera IIII 

Sebenarnya area tamannya sangat nyaman, bersih. Namun yang membuat tidak nyaman adalah serbuan dari para abegeh berkostum badut yang meminta untuk foto bersama dan terkesan sangat memaksa sekali. Kemudian pengamen yang mana mereka datang secara bergerombol terlihat menjadi menakutkan.

Cuaca yang semula panas, kemudian mendung dan akhirnya rintik hujan akhirnya membuat kita berdua lari menuju salah satu komplek pertokoan yang ada di pinggiran taman, sekaligus kita mencari toilet. Akhirnya kita duduk numpang di teras sebuah resto fastfood menunggu hujan reda dan menunggu rombongan lengkap. Segera setelah lengkap, kita meneruskan kembali perjalanan.

Tujuan akhir adalah Istana Paguruyung. Sebenarnya kami benar-benar tidak punya informasi seberapa jauh letaknya, dan seberapa lama kami harus menempuhnya. Terlalu percaya pada supir mobil travel yang kami sewa. Barulah tersadar jika Istana ini ternyata sangat jauh dan posisinya menjauh dari kota Bukittinggi otomatis semakin menjauh pula dari kota Padang.

Walau sedikit cemas, namun…. Wow!! terbayarkan dengan melihat begitu indah dan megahnya Istana Pagaruyung itu. Dengan latar belakang sebuat tebing yang membawa kesan magis berwibawa. Sampai-sampai merinding melihatnya.
Aku, bu Sugini segera mencari tempat shalat. Ternyata mushalla sudah terkunci dan petugasnya sudah pulang. Kami memang sampai sudah sangat sore, sudah pukul 16.30 wib.

Alhamdulillah, seorang petugas memberi kami tempat untuk bisa shalat, dan juga ada toilet kecil. Setelahnya baru aku dan Bu Sugini melangkahkan kaki menuju Istana menyusul yang lain.

Dan saat kami sedang narsis foto-foto, bapak-bapak atoooo tepatnya mas-mas (masih muda soale) yang tadi meminjamkan ruangan untuk tempat shalat menghampiri kami dan memberi petunjuk angle mana yang tepat untuk bisa ambil foto dengan background Istana. Daaaannn memang pas banget ternyata angle-nya

 


Ternyata sehari-hari dia bertugas sebagai petugas pemotong rumput, dengan sistem sehari masuk sehari libur. Dan di hari liburnya dia beralif profesi menjadi guide plus asisten untuk membantu bernarsis foto ria para rombongan tamu Istana. Asilnya orangtuanya adalah orang jawa timur, namun sejak dia kecil mereka sudah tinggal di sekitar Istana. Jadi dalam logat bicaranya antara dialek Minang terselip sedikit dialek jawa timuran



Penjelasannya sangat lengkap banget, Dari sejarah, kemudian berbagai cerita tentang pernah pernik yang ada di dalam maupun luar Istana. Cuma aku tidak terlalu nyimak dengan detail keseluruhan penjelasannya. Sesuatu yang sangat aku sesali.

Hanya sepintas sepintas yang aku dengar. Tentang tiang-tiang Istana yang mana posisinya miring sementara hanya ada satu tiang yang lurus dan menjadi tiang utama dari Istana. Kemudian cerita mengenai kebakaran yang di alami Istana sehingga bangunan yang ada saat ini ternyata hanya replikanya. Adapun bangunan yang asli hanya tinggal bangunan Surau saja.

Cerita juga mengenai jendela yang dibuat miring sehingga terlihat dari kejauhan tampaklah rumah/ Istana Gadang itu semakin meninggi. Namun yang terjadi sebenarnya ukurannya sama hanya saja posisinya yang dibuat miring memberikan efek demikian.

Istana terdiri dari beberapa tingkat, hingga tiga tingkat kalau tidak salah. Hanya berani naik hingga ke lantai duanya, tidak berani naik lebih tinggi lagi. Saat kembali melihat jendela kembali dihadapkan oleh tebing yang ada di belakang Istana. Kembali merasakan aura magis berwibawa yang menguar.

Menyambung dengan bangunan utama Istana, adalah pawon atau dapur. Nah disinilah kehebohan narsis dimulai. Si Mas ternyata penata gaya yang pro… mengatur gaya kami dan pandai mengambil angle yang tepat. Whuaaaa seru abis dah.


Tidak terasa waktu berjalan dan Istana sudah harus ditutup jam kunjungnya. Alhasil foto narsis berlanjut di halaman Istana. Semakin heboh dan menggilaaaaaaa

Weisss pokoke kalah dah pose foto model terkenal hahahahahaha…..
Alhasil Istana sampai sepi banget, barulah kita beneran bubar, dan malam pun turun.

Perjalanan pulang, barulah terasa pusing, mual. Mungkin juga karena sudah lelah dan si supir travel mulai bĂȘte jadinya mengemudikan mobil juga udah gak senyaman waktu berangkatnya. Hampir sepanjang perjalanan menuju kembali ke Padang menahan mual dan pusing. Thanks God! Begitu melihat plang nama hotelnya dari kejauhan…. Berasa ‘welcome home’

Sudah hampir pukul 21.00 wib kita sampai di hotel Rocky kembali, Alhamdulillah, tetap sehat dan selamat. Daaaaaaaannn yang menyenangkan dan melegakan… jatah hidangan makan malam masih tersedia di resto hotel 

Selesai makan,…. Kembali ke kamar masing-masing. Tidur? Gaaaaaaaaaakkkkk….. masih ada sesi lanjutan, hahahahahaha. Ngumpul di kamar 324, kamar ibu Rina, ngapain? Buat gabungin semua foto yang terserak dari berbagai sumber untuk dijadikan satu dan kemudian di copy ke masing-masing. Hahahahaha….

Keseruan babak berikutnya pun tiba. Ngobrol seru-seruan sambil tetep sibuk dengan laptop, gadget untuk saling copy dan transfer data. Dannn… bagian ini yang agak sedih. Say Goodbye. Beberapa dari kami akan kembali pagi-pagi denan pesawat pagi. Jadi bisa dipastikan tidak akan sempat bertemu saat sarapan esok hari. Sebagian lagi, ada yang punya jadwal penerbangan siang, dan ada yang sore hari. Sampai bertemu kembali sahabat-sahabat,… Inshaa Allah akan ada rejeki waktuNYA untuk bersua kembali. Kembali kerumah tetap sehat dan sukses selalu.


to be continue,... Padang, Day5


Thursday, May 15, 2014

Padang, Day3



Selasa, 29 April 2014
Semalam sebelum berpisah di lobby hotel dan menuju kamar masing-masing, sempat janjian lagi untuk jalan-jalan pagi dan tujuannya adalah pantai. Menurut cerita dari teman, petugas hotel, jarak menuju pantai tidak terlalu jauh, sekitar 15menit berjalan kaki. Sisi pantai berada di daerah barat sehingga yang diperoleh adalah sunset. Planning sore akan ke pantai lagi untuk melihat sunset.

Pukul 6 sudah kumpul di lobby dan jalanlah kita menuju pantai. Daaannn ternyata pantainya jauh yak!! Hadeuh itungan 15menit itu kira-kira kaki siapa yaaaaa???!!!

Pantainya adalah pantai karang, sehingga tidak bisa disusuri, dan ada tembok yang membatasi dengan sisi jalan. Ada disiapkan beberapa dermaga dimana kita bisa duduk dan menikmati pantai. Tapiiii ya karena mataharinya mayan seru, ditambah memang bukan pantai sunrise jadi berasa panas aja. foto foto narsis dan makan cemilan yang sempat dibeli di jalan saat menuju pantai. Dan segeralah kita kembali ke hotel. Berhubung dan capek jalan, alhasil mencari taxi untuk angkut kita semua.




Hahahahaha… di resto saat sarapan bertemu dengan para peserta workshop lainnya yang sebagian sudah rapi, dan rupanya yang satu ide dengan kami untuk jalan-jalan ke pantai juga banyak.

Pukul 08.30 wib barulah semua peserta lengkap. Kali ini ruangan dipindah ke lantai 5. Dan kita dapat ruangan ballroom yang sangat besar, sementara jumlah keseluruhan peserta tidak lebih dari 40-an orang saja. Jadiiiii serbuan hawa dingin dari pendingin ruangan cukup wow keren setelah paginya terjemur matahari.

Tugas utama pagi hari ini adalah merumuskan belief dan goal setelah mendengar berbagai paparan dari berbagai stakeholder kemarin. Dibagi dalam 3 kelompok. Dan dalam tiap kelompok harus lengkap terdiri dari berbagai unsur stakeholder.

Dimulailah diskusi dan perdebatan yang sangat seru. Hingga saat makan siang, belum semua kelompok selesai. Akhirnya kelompok yang telah selesai terlebih dahulu beranjak makan siang. 




Seperti yang sudah diperkirakan, mulai ilfeel sama hidangan hotel. Ditambah variasi menu yang tidak terlalu bisa dinikmati.

Sesi kedua setelah penyampaiaan paparan dari belief dan goal yang telah dirumuskan masing-masing kelompok, melewati kembali berbagai pertanyaan dan perdebatan.

Tugas selanjutnya di sesi ke-3 jelang sore adalah telaah bersama mengenai infrastruktur.

Di sesi inilah, mulai terasa hawa panas berbagai unsur kepentingan berbagai pihak yang terasa berbenturan. Ada situasi yang sangat tidak nyaman terhembus. Idealnya dalam merancang bangun infrastruktur sebaiknya menyusun terlebih dahulu program dan program tersebut tentunya berdasarkan belief dan goal yang telah dirumuskan. Merasa lega saat sesi 3 ini di istirahatkan dan merasa perlu untuk keluar dari hotel.

Beberapa kawan merasakan hal yang sama, dan akhirnya kita meluncur keluar hotel setelah meletakkan tas dan laptop dikamar. Perjalanan tanpa arah berakhir di sebuah toko oleh-oleh.





Sebenarnya gak terlalu nafsu buat belanja, pikiran masih terbelah dan terasa seperti bermain puzzle sedang mengumpulkan berbagai potongan yang terserak dimana-mana. Hanya mengambil beberapa bungkus keripik sanjai sebagai oleh-oleh, dan merasa cukup dengan itu. Kita kembali ke hotel dengan naik angkot yang rutenya melewati jalan utama samping hotel.






Saat makan malam, berada dalam satu meja besar, kembali memperebutkan buah markisa. Dan ternyata beberapa teman belum pernah mencoba seperti apa sih rasanya markisa itu, sehingga heran kok sampai kita berebut. Setelah di ‘komporin’ dan akhirnya memberanikan diri untuk mencoba, suster Cicilia akhirnya mau mencoba, daaaannn ternyata beliau tidak suka dengan rasa markisa. Wajahnya berekspresi ajaib. Duuuuhhh maafkan keisengan kami ya suster… memaksa dirimu untuk memakan buah markisa.




Beberapa teman terasa enggan untuk melangkahkan kaki kembali menuju ruangan workshop. Kembali suasana nyaman menguar dan semakin lama, intrik politik dan bersinggungan kepentingan pada berbagai pihak semakin tajam. Buat aku yang tidak pernah berurusan langsung dengan berbagai unsur stakeholder ini dan aroma kental politik merasa gamang dan hanya bisa terkaget-kaget dalam hati.

Walaupun pada akhirnya perumusan bisa dituntaskan dan secara tidak resmi workshop ditutup (karena ada 2 workshop lainnya yang masih berlangsung), banyak terjadi ganjelan. Melelahkan sekali rasanya. Dan buat aku ini sebuah pembelajaran yang sangat mahal, dan benar-benar membukakan mata.

Kembali ke kamar dengan berbagai isi kepala yang berkecamuk serta rasa tidak nyaman.



to be continue,... Padang, Day4

Wednesday, May 14, 2014

Padang, Day2



Senin, 28 April 2014
Terbangun pukul 03.30 wib, jam tubuh yang gak bisa diboongin. Terbiasa bangun setiap hari di jam yang sama, membuat tubuh ini seperti punya alarm sendiri untuk bangun, selarut apapun tidur selalu terbangun di saat yang sama. Berusaha untuk menenangkan diri kembali dan mencoba terlelap. Berhasil, namun tidak lama. Hanya 1 jam dan benar-benar melek. Ya wes, segera saja shalat Subuh. Tidak banyak yang bisa dilihat dari jendela kamar hotel. Karena area hotel berada di sekitaran pasar kota. Jadilah ya hanya pemandangan kios-kios yang belum buka. Hanya ada petugas kebersihan dan truk angkutan sampah yang menjadi pemandangan.

Menikmati waktu santai, dan setelah mandi bersiap, turun ke resto hotel untuk sarapan pukul 07.30 wib. Semakin banyak lagi wajah wajah yang sudah dikenal di berbagai kesempatan yang semalam tidak sempat bertemu, karena kami datang sudah larut malam. Bertukar sapa dan kabar, mengobrol ringan dan bersama menikmati sarapan pagi. Ya sarapan pagi standar ala hotel. Hmmmmmm kok tiba-tiba jadi merasa ‘ilfeel’ mengingat 4hari kedepan bakal makan hidangan hotel yang sudah mulai tertebak seperti apa yang terhidang.

Pukul 08.00 wib memasuki ruangan workshop, dengan berbagai narasumber dan berbagai materi yang menarik. Benar-benar sebuah kesempatan yang sangat berharga dan menuai banyak ilmu dalam membekali diri kecemplung dunia disabilitas. Untuk balqiz, untuk banyak orangtua dan abk di luar sana.

Inshaa Allah akan mendirikan sebuah MDVI Centre yang akan dibangun di Bandung di komplek kampus UPI. Dalam pembuatan centre tersebut, diperlukan banyak masukan dari berbagai unsure stakeholder yang sehari-hari berinteraksi langsung dengan dunia disabilitas. Berbagai unsure stakeholder yang hadir, dari unsur sekolah, unsure guru, unsur orangtua, akademis, praktisi, psikolog, dan berbagai dinas terkait, dalam hal ini kementerian pendidikan dan kebudayaan direktorat pendidikan luar biasa.

Masukan dari Perkins yang dibawakan oleh Miss Namita Jacob yang sudah malang melintang membangun MDVI centre di berbagai Negara sangat membantu dan membuka mata.




Diseling istirahat makan siang, kemudian istirahat sore dan kemudian lanjut kembali setelah makan malam, berasa marathon dalam mengerahkan kemampuan konsentrasi.

Saat makan malam ini ada keseruan tersendiri. Mendapat kisikan bahwa buah markisa yang tersaji sangatlah manis dan serta merta menjadi rebutan dari pecinta buah. terlebih berhasil merayu si bule Adeline dan Namita Jacob untuk mencoba dan mereka suka memakannya. Alhasil suasana makan malam penuh kehebohan atas keberadaan si markisa






Sesi terakhir hari ini, giliran ibuk dan dua orangtua lainnya yang hadir, Ibu Grace dan Ibu Rosyifa dan Ibu Dessy dari Low Vision Centre Wiyataguna Bandung.

Berbagi cerita mengenai keseharian bersama abk, memberi masukan apa yang diperlukan bagi abk, serta apa sih yang dibutuhkan para orangtua abk. Bertubi-tubi kami berempat mendapat pertanyaan, bahkan sepertinya lebih seru dan antusias daripada acara sepanjang pagi hingga sore tadi. Senang rasanya bisa berbagi dan memberikan inspirasi bagi banyak orang. Semoga apa yang disampaikan menjadi berkah dan manfaat bagi semua.




Tak terasa baru bubar setelah pukul 22.00 wib. Wow!! malam bangeeett. Tapi puas rasanya.

Sesaat setelah keluar ruangan, kok jadi pada kasak kusuk mau jjm yaaaa. hahahahaha…. Buat emak-emak mah yang namanya jalan-jalan pasti langsung tegak telinganya dan antusias. Walaupun hanya jalan-jalan disekitar hotel. Karena rame-rame jadi ya berani aja meski sudah larut malam. Sebelum melangkah kaki keluar halaman hotel, petugas concierge sempat mengingatkan kita untuk berhati-hati. Maklumi yang jalan emak-emak semua tanpa ada pengawal.

Lingkungan sekitar hotel adalah area pasar. Kiri kanan dan depan hotel berjejer kios kios baju, sepatu, dll. Setelah berjalan agak jauh barulah menemukan pasar tradisionalnya. Larut malam pun tidak menyurutkan hiruk pikuk pasar. Kami sempat berhenti di depan sebuah kios dan memanggil tukang sate padang yang sedang lewat. Iseng memesan dua porsi sate padang. Gak ikutan makan, karena selain perut kenyang, juga gak terlalu selera.



Cukup lama ngobrol di sana, hingga akhirnya uda pedagang sate-nya dengan ragu-ragu meminta bangkunya yang sedang kami duduki supaya dia bisa melanjutkan langkahnya. Hahahahaha…. Emak-emak kalo dah rumpi jadi suka lupaaaaaa






to be continue,.... Padang Day3